Ajer Noles

Untuk Mahir Menulis, Kita Perlu Membaca dan Berlatih dengan Gigih

Hal Menarik yang Harus Dibaca Para Blogger Mengenai Surat yang Ditulis Rilke

Dalam buku "Surat  untuk Penyair Muda" yang ditulis Rainer Maria Rilke, sejatinya adalah permenungan untuk siapapun yang berniat menjadi penulis. 

Surat itu ditujukan untuk Franz Kappus, seorang yang memiliki obsesi menjadi penyair.


Rilke, penulis kenamaan dari Jerman itu, menulis dalam suratnya itu untuk Franz Kappus. 

“Carilah alasaan kenapa Anda ingin menulis ; rasakan apakqh alasan itu telah menanamlan akarnya jauh ke dalam diri Anda, hati Anda, hingga Anda lebih baik mati daripada diharuskan berhenti menulis.”

Membaca tulisan itu, pernahkah kita berpikir betapa menulis pun tetap memerlukan keseriusan. 

Rainer menyatakan  dengan memberikan pernyataan : 

“Di atas semua itu, Anda perlu memberanikan diri untuk bertanya kepada diri sendiri : haruskah Anda menulis."

“Carilah jawabannya di dalam diri Anda. Jika jawaban dari pertanyaan itu sifatnya positif ; atau bila Anda menjawab pertanyaan itu dengan lugas dan sederhana : “Saya harus menulis,” 

maka saya sarankan bagi Anda untuk mulai membangun hidup Anda sesuai dengan jawaban tersebut. Setiap momen dalam hidup Anda harus didedikasikan untuk menulis. Ini adalah kesaksian Anda.” 

Nah, surat berjudul Letters to A Young Poet itu setidaknya memberikan pertanyaan besar bagi siapapun, terutama para blogger (untuk mendedikasikan hari-hari mereka) agar semakin rajin menulis di blog.

2019, Fendi Chovi

Belajar Ngeblog dengan BloggerFLP

* Ditulis fendi chovi

Siang itu, seorang teman menegurku dan isi tegurannya begini :

"Kenapa kamu masih suka menunda membuat blog dengan domain berbayar?"

"Segera diurus, ya, agar semakin giat menulis," tegurnya.

Kegiatan Workshop Blog

Bahasa yang kerapkali aku dengarkan, blog milikku harus ber- top level domain (TLD). 

Permintaan itu, menurutnya, sangatlah penting buat langkah-langkahku ke depan. Apalagi, kami sering ikut event bareng-bareng yang sebagian dari kegiatan yang kami ikuti selalu aku tulis di blog.

Setelah menimbang teguran dan sarannya itu, aku langsung mengurus pembuatan domain dan plus mencari nama yang aku anggap mewakili semangatku ngeblog. 

Akhirnya, aku memilih nama blog baru di tahun 2019 ini, dengan nama ajernoles.id 

Ajer Noles merupakan dua kata dari bahasa Madura. Ajer memiliki arti belajar. Noles memiliki arti menulis. Jadi, saat digabung artinya belajar menulis.

Blog ini akan dimanfaatkan untuk membicarakan dan mendiskusikan berbagai hal dan projek yang berkaitan dengan #BacaTulis #Ngobrolin BukuBaruBukuLawas #KomunitasMenulis #JalanJalanMenulis
Membiasakan ngeblog sama dengan membiasakan diri untuk rajin menulis. "Menulis itu, kata Pramoedya Ananta Toer, adalah kerja keabadian." 

Artinya, penulis itu akan terus mengikat pesan dan nasihat yang bisa terus menerus dibaca melewati puluhan generasi. 

Penulisnya boleh saja sudah tiada. Tetapi, karya-karya yang ditulisnya. Tak akan pernah hilang dalam ingatan kaum terpelajar. Bahkan, sejarah.
Baca juga tulisan Murid Tjokroaminoto ini 

Mengingat saat ini adalah era-nya digital. Maka, kita pun harus cepat untuk beradabtasi dalam menyajikan tulisan yang mudah diakses anak-anak milenial. 

Mengutip Karl Manheim, sosiolog yang mencetuskan penamaan generasi pada 1923 yang silam, jika kita dilahirkan pada periode 1980 hingga 1997. Kita adalah generasi Y, alias generasi milenial yang pertama.

Sebagai generasi milenial, ngeblog seharusnya dijadikan makanan sehari-hari. Agar sehat dan menyehatkan. Utamanya dalam memperkaya wawasan. Terlebih, finansial.

Saat ini, anak-anak milenial mulai terbiasa membaca dan mendapatkan asupan bacaan melalui gawai (gadget). Masyarakat yang melek IT, di desa atau kota, selama terkoneksi dengan internet. Mereka adalah konsumen. Dan kita menjadi produsen bacaan bagi orang-orang pengguna internet jika rutin mengisi blog kita.

Permintaan teman saat itu, pada titik ini menjadi permintaan yang layak dikenang. Blog kita memang tidak harus yang domainnya berbayar. Namun, memiliki blog dengan domain berbayar sangat terlihat profesional dan besar manfaatnya. 
Nah, sejak kembali bergabung dengan FLP, melalui Forum Lingkar Pena (FLP) di cabang Sumenep. Aku juga menjadi bagian Blogger FLP.

BloggerFLP adalah wadah yang ada di FLP yang menampung para anggota, terutama yang memiliki minat pada aktifitas ngeblog. Untuk bergabung dengan BloggerFLP, kalian kudu menjadi anggota FLP, memiliki NRA FLP, dan syarat lainnya, blog kalian kudu yang TLD.

Bergabung menjadi bagian BloggerFLP ini memberikan kesempatan untuk terkoneksi dengan sesama Blogger yang ada di FLP. Sebagaimana kita ketahui, FLP adalah komunitas literasi yang memiliki anggota yang tersebar di berbagai daerah. Manfaatnya tentu sangat besar juga buat kalian. 

Dari FLP, kalian bisa berjejaring bersama orang-orang yang sehobi dan bisa saja (kalian menemukan jodoh di FLP). Bukan hal yang mustahil juga, bila suatu hari nanti, tulisan-tulisan kalian di blog kalian sendiri bisa kalian bukukan.

Ngeblog, kalau kita jalani, manfaatnya sangat baik. Tidak hanya bagi kesehatan tubuh, pikiran tapi jika ditekuni juga untuk penguatan finansial (meski, untuk poin ini tergantung amal baiknya :)

Ngeblog bersama anggota/pengurus BloggerFLP ini merupakan kado yang layak disyukuri. Setidaknya, aneka manfaat pasti kita dapatkan sepanjang kita serius dan mau belajar bersama-sama.

Di FLP, tentu saja, kalian akan berjumpa dengan para penulis keren lainnya. Tak hanya keren sih, Insya Allah, mereka juga sholeh dan sholehah. Mereka akan senantiasa menulis sesuatu yang beradab dan menjaga setiap kata-kata yang keluar dari jemari atau keyboard dengan tujuan mengundang amal baik.

Kalau bukan hari ini kalian ngeblog, kapan lagi?

* hobi ngeblog dan jalan-jalan. Bergiat di FLP cabang Sumenep.

Kisah Si Jomblo Militan Menikahi Seorang Gadis

Pada suatu malam yang tengah kosong kegiatan. Temanku dari Ciamis yang belum lama tiba di kos sebagai anak baru mengajakku berkunjung ke lokasi-lokasi wisata. Ingin menikmati suasana baru, katanya. Aku mengajaknya ke Bukit Bintang. Selain penasaran dengan berbagai ulasan menarik terkait tempat tersebut, aku ingin sekali menyaksikan suasana di atas bukit yang katanya menjanjikan romantisme.

Malam itu kami berangkat menaiki sepeda motor. Menyusuri jalan di Wonosori, sesekali memasang mata ke kiri dan kanan jalan. Siapa tahu ada bidadari nyasar di Jogjakarta ini.

Sesampai di lokasi, ternyata suasana wisata sudah ramai oleh anak-anak muda. Mereka terlihat asyik ber-selfie. Perjalanan dengan mengendarai sepeda motor dari kos ke Bukit Bintang cukup menguras energi. Kami pun langsung memutuskan untuk makan malam.


Bukit Bintang. Wisata yang satu ini sudah dikenal luas di Jogjakarta. Kita bisa menyaksikan kota Jogja dan gemerlap cahaya, serasa berdiri di atas bintang-bintang jika melihat ke bawah dari ketinggian. Hamparan cahaya lampu tampak indah dan cantik di malam hari dari atas bukit ini.

Ngobrol dan menikmati suasana di Bukit Bintang. Di sini para pengunjung tidak hanya disuguhi pemandangan yang mengesankan. Berbagai warung makan berjejer, para pengunjung bisa mememesan makanan dan minuman dengan harga bervariasi. Kopi, jagung bakar, atau mi rebus. Bersama teman, pacar, atau keluarga menatap gemerlapnya lampu-lampu di kejauhan. Indah lah pokoknya!

“Duduk di sini mengingatkanku pada masa-masa muda, Mas,” kata temanku.

“Aku kira ada benarnya, Mas. Duduk di sini apalagi jika mengajak pasangan, barangkali akan membuat kita menjadi manusia paling romantis. Kita bisa menunjukkan kepada kekasih. Hamparan lampu-lampu dibawah sana. Seolah-olah kita menyaksikan bintang-bintang di langit,” kataku menimpali.

Mular, begitu nama temanku ini. Ia sudah memiliki istri dan dua anak, sedangkan aku sendiri masih berstatus lajang. Tak masalah, justru itu kesempatan besar bagiku untuk menikmati kebebasan.

Menikmati hidangan bakso dan ice juice. Kami bercerita panjang lebar tentang apa saja yang menarik bagi kami. Tak sungkan aku bertanya seputar awal perkenalan dan perjumpaannya bersama istri.

Ia menatap ke hamparan cahaya di kejauhan dari arah ketinggian bukit bintang ini. Menghela napas. Kemudian bercerita tentang kenangannya saat awal-awal PDKT dengan si istri.

“Saat aku masih jomblo, Mas. Aku pernah bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Gajiku lumayan sih saat itu,” ujarnya.

Pertemuan itu bermula saat Mular berkunjung ke sebuah restoran. Di sana ia bertemu dengan perempuan yang menurutnya sangat menarik perhatiannya. Mular menyebutkan jika gadis itu tidak seperti beberapa perempuan yang selama ini dikenalnya.

Sejak kejadian itu, Mular jadi sering bertandang ke restoran tempat gadis itu bekerja, dengan harapan si gadis tersebut membawakan hidangan menu makanan yang dipesannya. Tak disangka, gadis itu benar-benar mengantarkan hidangan yang dipesan. Sayangnya, ia tidak merespons sama sekali apa yang ditanyakan oleh Mular. Mungkin karena pertanyaan Mular hanya seputar, boleh kenalan, boleh minta nomor HP, dan pertanyaan basa-basi lainnya.

Si gadis tidak merespons dan berlalu begitu saja ketika selesai mengantar pesanan.

“Sebagai jomblo militan, aku merasa ditantang dengan keadaan seperti itu. Aku penasaran, Mas. Jadi setiap malam, aku bertandang ke tempat gadis itu bekerja. Membeli segala jenis makanan yang ada di restoran itu. Bahkan, tak jarang aku menghabiskan Rp100.000 lebih untuk sekali makan.”

“Gajiku saat itu cukup banyak sih. Apalagi, aku kan masih jomblo. Jadi cukuplah sekadar makan di restoran itu,” tukas Mular.

“Sebagai jomblo militan, aku tidak kalah siasat. Saat gadis pelayan restoran itu semakin sulit diajak berdiskusi, aku diam-diam memiliki ide baru.”

“Aku meminta nomor gadis itu kepada pelayan lainnya. Mbak, boleh dong saya dikasih nomor HP teman sampeyan yang itu,” kata Mular sambil terkekeh.

“Aku berkata seperti itu sambil memberikan uang seadanya sebagai ongkos kepada si teman gadis itu, lho?”

“Tak disangka, ternyata nomor gadis itu kudapatkan. Ya, saat itulah, kami berkenalan dan niatku saat itu bukan lagi berpacaran. Tapi langsung menikah.”

“Kutembak gadis itu dengan pertanyaan begini, maukah engkau jadi istriku?” kata Mular agak malu-malu.

Si gadis agak malu-malu dan kemudian menjawab, “Iya, boleh Mas. Silakan minta kepada orang tuaku.”

Sebagai jomblo militan dan pernah kesepian, Mular pun langsung menyiapkan diri menemui bapak gadis itu. “Tahukah berapa hari untuk mendekati gadis itu, Mas?” tanya Mular kepadaku.
Aku menggelengkan kepala.
“Serius hampir sebulan lho, Mas. Tak ada tanda-tanda kalau gadis itu tertarik padaku. Atau jangan-jangan ia sedang menguji cinta dan keseriusanku,” ungkap Mular serius.
“Beruntungnya sih, aku tercatat sebagai jomblo militan dan akhirnya Tuhan mengabulkan doaku. Kami pun menikah,” ungkap Mular.
“Terus, bagaimana dengan Mas sendiri?”

Gerimis tiba-tiba turun. Aku terdiam. Aku tak mampu berkata-kata. Tak ada cerita, pun tak ada sesuatu yang layak diceritakan. 

Kalau saja Bang Mular tahu. Selain jadi kawan, kesepian itu lebih sering jadi lawanku. Setidaknya untuk sekarang, aku tak mampus dikoyak-koyak sepi.

Ditulis Fendi Chovi
Dimuat di Jombloo.co pada (02/12/2016) dan saat ini situs tersebut lagi ditutup. 

Jogja yang Pernah Aku Singgahi

Ditulis Fendi chovi

Suasana di halaman Taman Budaya Yogyakarta terlihat ramai malam itu. Penampilan sejumlah musisi di panggung utama benar-benar memberi hiburan, terutama buatku sendiri yang baru tiba di Jogja.

Malam itu, aku menyaksikan pameran seni lukis dalam perhelatan PAPERU (Pameran Perupa Muda) Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2016 dengan tagline :  Masa Depan, Hari ini Dulu !

Tagline itu membuatku berefleksi tentang hari-hari yang kujalani hanya demi menyusun masa depan. 

"Sudahkah aku menikmati "hari ini", waktu yang kujalani saat ini?" tanyaku kepada diri sendiri.

Sejenak suasana seperti hening dalam batinku.

Sejumlah lukisan para perupa dipajang di sudut-sudut ruangan. 

Aku menatap beberapa lukisan. Lalu, aku meminta difoto untuk menegaskan bahwa aku pernah hadir ke pameran FKY tahun 2016 ini. 

Ya, hadir sebagai pengunjung untuk menyaksikan aneka jenis lukisan para seniman.

Kemudian, temanku bertanya, “Apa sih yang sebenarnya kamu harapkan dari perjalananmu ke Jogja?”

"Aku hendak belajar mengenal Jogja. Barangkali dari kota ini, banyak hal menarik yang bisa aku teladani," jawabku.

Setelah itu, aku kembali melihat-lihat aneka lukisan dan mampir ke stand aksesoris dan di dinding terpajang pernyataan menarik di dalam benda mirip Pin ukuran agak besar terpdengan tulisan : I am more than What You See.



Kata-kata itu membuatku berpikir dan merenung sejenak.

Hemmm .... 
Bayangkanlah 

Seandainya seseorang memandangmu dengan sikap meremehkan dan merendahkan. Itu barangkali karna mereka belum tahu siapa dirimu.

Begitu juga seandainya orang-orang masih sibuk bertanya tentang masa depan ...

"Bagaimana meraih masa depan itu?" 

Dengan tersenyum akan kujawab dengan tagline FKY :  Masa depan, hari ini dulu !" ...

2016, Titik Nol Malioboro







Murid Tjokroaminoto yang Gemar Menulis

... dari rumah kos kediaman Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto itulah, para pendiri bangsa ini sewaktu muda pernah belajar dan berdiskusi tentang kebangsaan...

"SAYA tetap berharap rumah Tjokroaminoto ini bisa menjadi rumah diskusi anak muda,” ungkap Eko Hadiratno, pengelola Rumah Peneleh, saat bedah buku Guru Bangsa : Strategi Pendidikan Tjokroaminoto dalam Rumah Kos Soeharsikin, karya Rintahani Johan Pradana di rumah HOS Tjokroaminoto, Surabaya, Jumat (20/11/2015) malam.

Bedah buku ini dihajat penerbit Pustaka Saga dan dihadiri beberapa praktisi sejarah Surabaya serta mahasiswa dari berbagai kampus di Jawa Timur. Kurang lebih tiga jam, peserta menikmati dan mendengarkan seputar proses penulisan buku tersebut.

Foto  (wikipedia.org)

Joe, sapaan dari Rintahani Johan Pradana menceritakan, buku tersebut terlahir karena penugasan menyusun skripsi dan penggalan ide tersebut beberapa di antaranya dibagikan di rubrik Citizen Reporter Harian Pagi Surya.

Bustomi, pembedah mengupas beberapa keunikan buku dan data-data sejarah lain tentang sejarah pergerakan HOS Tjokroaminoto. 

“Rumah kos-kosan ini adalah salah satu bukti lahirnya para tokoh-tokoh bangsa Indonesia. 

Anak-anak didikan Tjokroaminoto pun kreatif menulis juga. Itu terlihat dari media-media yang ada di masa itu. Maka anak muda harus giat menghidupkan budaya literasi dan aksi nyata untuk mengawal jalannya perubahan,” papar Bustomi.

Diakui Bustomi, selama proses literasi dan aksi nyata bersatu, maka gerakan nyata untuk perubahan akan dirasakan masyarakat lebih dasyat pengaruhnya.

“Berdiskusilah dan menulislah, maka pengaruhnya akan lebih besar dan ditakuti dari sekadar demontrasi biasa,” imbuh Bustomi.

Berbeda dengan Wawan Ismanto, pengurus Rumah Kepemimpinan PPSDM Surabaya ini menegaskan bahwa buku karya Joe tersebut, setidaknya mendidik anak muda sebagai bagian dari rumah perubahan itu harus bermula dari kos.

“Di buku Rumah Bangsa ini ditegaskan bagaimana Tjokroaminoto menampung anak-anak muda dan pada akhirnya bisa menjadi tokoh besar di Indonesia,” ujar Wawan.

“Sayangnya, Tjokroaminoto memberikan kebebasan dan membiarkan anak-anak didiknya memilih ideologi berbeda dan kadang bertentangan dengan Tjokroaminoto sendiri,” imbuh wawan menyesalkan.

Namun, Wawan mengaku terinsipirasi bahwa mengembleng anak muda harus dimulai dari gagasan rumah perubahan dari kos-kosan, inilah rumah guru bangsa tersebut. Ini penting dan sudah mulai dilihat oleh beberapa organisasi untuk mengembleng anak muda,” tegas Wawan.

Tulisan ini pernah diterbitkan di sini (Arsip)




Menulis Buku dengan Cara Bercerita

Ditulis Fendi Chovi

KESULITAN saat menulis buku seringkali dikeluhkan banyak orang. Padahal, menulis buku itu gampang dan saya menyelesaikan hanya butuh satu bulan.

Demikian ungkap Novie Chamelia, saat dialog buku berjudul Semudah Bermain Catur. Digelar di Rumah Adat Art Gallery, Sumenep, Minggu, 17 Januari 2016 bersama para budayawan serta pemerhati pendidikan Madura.


Penulis buku ini berbagi pengalaman, inspirasi, serta trik menggali ide dan bagaimana menuliskannya. Buku tersebut berisi catatan pendek petualangan Novie serta pandangannya terhadap kehidupan masyarakat.

“Saya menulis tidak selalu apa yang saya ketahui, tetapi lebih pada apa yang saya sukai. Jadi, saya menulis untuk menyampaikan sesuatu. Bukankah itu prinsip menulis yang paling mendasar,” papar Novie.

Perempuan jebolan Magister Prodi Sosiologi Universitas Indonesia (UI) Jakarta ini, mengaku terinspirasi menulis ketika bertemu dengan banyak orang dan peristiwa di sekitarnya.

“Saya termotivasi menulis karena ketika setiapkali bertemu orang, Saya selalu merasakan peristiwa yang membuat saya penasaran dan Tuhan memberikan jawaban setelah saya menulisnya,” ujar Novie.

“Ternyata ilmu Tuhan di dunia ini tidak sebatas apa yang kita lihat. Ilmu Tuhan juga ada yang tak terlihat. Untuk itulah, Tuhan menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan berbeda tradisi, bahasa, budaya. Sebab di setiap bangsa itulah, ada ilmu Tuhan yang bisa dipelajari manusia. Di situlah, menariknya saya menuliskan sesuatu,” jelasnya panjang lebar.

Novie mengakui jika buku yang ditulisnya adalah potongan cerita catatan lama dan kemudian diedit dan dipermak ulang sehingga menjadi catatan utuh dan dicetak menjadi buku.

Sekali lagi Novie meyakinkan jika menulis buku itu gampang, sebab kita tinggal bercerita, lalu mengedit dan membagikannya  kepada pembaca. 

Benar bukan?

Tulisan ini pernah dipublikasikan di sini (arsip)

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menulis Esai

Ditulis Fendi Chovi *

Back To Top