Ajer Noles

Meraih Mimpi dengan Menulis

Jangan Sampai Penulis Mati karena Pembacanya Sendiri

Setiap kali membaca buku. Hal yang saya ingin sekali mengingatnya adalah tentang apa yang disampaikan dan apa yang ditulis dalam buku itu, kemudian tentang siapa yang berada di balik buku itu terbit.

Membaca buku bagi saya bukan semata-mata berwisata aksara. Juga bukan semata-mata membaca kumpulan kata-kata yang kemudian membentuk ide dalam barisan kalimat dan paragraf.

Membaca buku buat saya adalah jalan untuk mengerti. Membaca buku buat saya adalah jalan untuk menghargai penulis serta penerbit.



Dengan membaca buku, saya juga sedang belajar memahami hidup para penulisnya. Perjuangan mereka menulis buku dan kepada siapa buku itu ditulis.

Bagi saya menulis buku adalah perjuangan dan mereka berhak untuk mendapatkan kepuasaan secara batin dan finansial.

Kaya menulis bukan hal yang salah. Tapi, kaya dengan menulis rasanya hanya mimpi jika beberapa penerbit merasa dirugikan dengan adanya pembajakan.

Tulisan ini merupakan pemikiran dan refleksi sederhana untuk lomba blog yang digelar penerbit Mizan. 

Para penulis juga merasa dirugikan. Maka, apa solusinya?

Hargailah kerja keras penerbit sebagai sebuah perusahaan yang bertujuan untuk mencerdaskan dan menjembatani penulis bertemu dengan para pembacanya. Dan memberikan royalti untuk penulis atas buku-buku mereka yang terjual.

Saya juga seringkali bertanya, buku apa yang pernah saya baca?

Kira-kira buku apa yang saya baca. Apakah buku itu didapatkan dari hasil bajakan?

Sebagai pembaca saya selalu berusaha mendapatkan langsung dari penerbit atau penulisnya, dan syukur-syukur mendapatkan tanda tangan dari sang penulis.

Ada rasa bahagia. Membeli buku dan mendapatkan tanda tangan. Untuk mendapatkan rasa bangga sebagai pembaca dan menghargai para penulis.

Menurut saya, membaca buku itu asyik. Tapi, kita juga harus mengerti hak-hak penerbit dan penulis. Kita juga kudu paham tentang tanggung jawab sebagai pembaca. 

Jangan sekali-kali, kita membeli hasil bajakan. Jangan membiasakan membeli buku-  buku di luar dari penerbit, yang dipercayai dan terikat MoU dengan sang penulis.

Awalnya, saya juga seringkali mendapatkan buku bajakan yang dijual di pasaran. Yang dijual murah. Untuk buku-buku yang masih dijual mahal dan masih diterbitkan oleh penerbit buku itu. Tapi, saya juga merasa perlu untuk menumbuhkan kesadaran baru pentingnya menjadi pembaca yang harus mampu menghargai penulis.

Saat ini, membaca itu bukan sekadar berwisata ide. Tapi, juga berwisata ke dalam hati para penulis yang merasa dirugikan.

Cara Mengatasi Pembajakan

Menurut saya, cara mengatasi pembacakan harus dimulai dari pembaca. Mereka adalah konsumen dari buku.

Jatuh bangunnya dan bangkrut tidaknya para penulis ada di tangan mereka.

Jika mereka sadar, maka mereka akan meninggalkan kebiasaan sebagai pembaca buku bacaan.

Kalau kesadaran ini masih belum muncul dalam diri sang pembaca. Maka, selama-lamanya, sekeras apapun tuntutan para penerbit kepada pelaku pembajak buku, para konsumennya yang memiliki peran pengepul pemjakan buku itu sendiri.

Saya membaca sepotong berita di portal beritagar.id yang ditulis Sivana Khamdi Sukria pada 23 April 2019 berikut ini :

Para pembaca buku harus disadarkan bahwa dengan membaca -apalagi membeli- buku bajakan, pada dasarnya mereka tengah membunuh masa depan dunia perbukuan itu sendiri.

Nah, pesan itu penting. Kita harus mengedukasi para pembaca. 

Para pembaca kudu dibekali bagaimana menjaga "perjuangan" dan juga "hidup" penulis dan dunia penerbitan. Caranya, belilah buku mereka. Jangan dari buku-buku bajakan.

Jangan sampai penulis mati karena pembacanya sendiri.

Itu hal yang perlu kita refleksikan bersama-sama.

Fendi Chovi, 2019


Terkenal Sejak Masa Kolonial, Pesona Talaga Bodas Senantiasa Memikat Untuk Disinggahi

Oleh : Fendi Chovi *

Pertama kali melihat keindahan Kawah Talaga Bodas di media sosial, saya langsung jatuh cinta untuk mengenal lebih dekat dengan destinasi wisata di Garut ini.

Terlebih, destinasi wisata yang terkenal sejak masa kolonial ini cukup memanjakan mata untuk dijadikan lokasi berswafoto.

Melalui tulisan ini, saya bermaksud untuk mengexplorasi keindahan salah satu destinasi wisata yang terdapat di kabupaten Garut.

Pemandangan Kawah Talaga Bodas.
(Sosial Media Riki_Rikarya)


Kawah Talaga Bodas. Destinasi wisata ini sudah dikenal sejak masa kolonial, yaitu pada masa Belanda. Untuk melihat jejak destinasi wisata ini di masa lalu, fotografer Belanda bernama Margarethe Mathilde Weissenborn, akrab disebut Thilly Weissenborn, yang  asli keturunan Jerman itu diabadikan di sebuah kantor pos pada 4 Februari 1932.

Tidak mengherankan jika kemudian, daya tarik Kawah Talaga Bodas saat itu menjadi wisata bagi orang-orang Eropa. Nama Talaga Bodas mendorong Gubernur Jenderal Hindia Belanda menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata pada 4 Februari 1935. Namun, sejak kejadian terbakarnya kampung papandak tahun 1935. Wisata itu mengalami kemunduran.

Melibat sejarah Talaga Bodas ini, dukungan dan atensi pemerintah setempat untuk merawat destinasi wisata ini benar-benar layak untuk diapresiasi. Harapannya ke depan, wisata di Garut ini benar-benar bisa dikelola buat tempat berwisata yang lebih baik.

Apa yang akan kita lakukan jika berpelisir ke Talaga Bodas? 
Kalau saya sendiri pasti akan membangun tenda untuk berkemah. Menikmati suasana berkemah atau camping di pinggir di dekat kawah talaga bodas adalah cara paling menarik dan sensasional. Setidaknya, bisa untuk refresing serta mencari ketenangan dan inspirasi. Banyak spot menarik yang memanjakan mata dan bisa untuk berswafoto.

Di malam hari, kita juga bisa melihat keindahan bintang-bintang di waktu malam hari. Menarik, kan?

Kawah Talaga Bodas. Destinasi wisata ini berada di desa Sukamenak, di kawasan Wanaraja, Garut. Dari sejumlah portal online yang saya baca, perjalanan ke lokasi hanya memerlukan jarak sekitar 25 km. Kalau kalian mau naik kendaraan umum, kamu bisa memilih jurusan Garut dan Wanaraja di Terminal Guntur.

Perjalanan ke tempat ini sangat mudah ditempuh. Namun, rute ke lokasi perlu dibenahi. Sebab, beberapa review pengunjung jalan menuju lokasi masih belum difasilitasi secara maksimal.

Suasana di dekat Kawah Talaga Bodas
(Diambil dari berbagai sumber)

Kawah Talaga Bodas merupakan destinasi wisata yang sungguh menarik untuk dikunjungi. Talaga Bodas menyajikan eksotisme alam yang membuat pengunjung bangga untuk sekadar berswafoto.

Talaga bodas menyimpan keunggulan untuk  dipamerkan dan  dipromosikan kepada wisatawan domestik dan wisatawan Manca. Menurut saya, destinasi wisata ini perlu dipromosikan sebaik mungkin agar para pengunjung terus bertambah.

Perbaikan dari tahun ke tahun harus mulai dilakukan setiap saat. Agar para pengunjung yang datang ke Talaga Bodas merasa nyaman.

Nah, berdasarkan pemberitaan  dari Kompas.com disebutkan jika pengunjung dari tahun ke tahun menunjukkan angka positif dan mencapai pada angka 60.000 wisatawan di tahun 2019.

Jadi, harapan untuk mengembangkan dan menarik wisatawan untuk berkunjung ke talaga bodas akan semakin terwujud.

Bagaimana caranya?

Perlunya Promosi yang Berkelanjutan

Saat ini, para pelaku wisata, pemerintah dan investor harus saling bersinergi agar tercipta destinasi wisata yang layak dipromosikan.

Setidaknya, wisata di daerah bisa menjadi faktor utama yang ikut membantu percepatan pembangunan. Citra sebuah daerah juga ditentukan oleh sektor pariwisatanya. Masyarakat menilai jika baik tidaknya pariwisata itu ikut menentukan wilayah tersebut. 

Strategi untuk meningkatkan itu yaitu dengan memanfaatkan internet agar bisa menjadi tulang punggung daerah. Promosi wisata harus berjalan beriringan antara duta wisata, pegiat wisata, agent travel, pemilik homestay dan penjaja kuliner.

Pemanfaatan internet juga sangat potensial untuk mengait orang untuk datang dan menghabiskan liburan mereka di tempat destinasi wisata yang dikelola.

Untuk itu, Smart Tourisme juga diperlukan di dalam memajukan serta mengenjot pariwisata lokal  dan pendekatan yang digunakan benar-benar baik, mudah diakses, salah satunya menggunakan sosial media. 

Pengelolaan website dan sosial media sangat diperlukan. Sebab, tidak sedikit wisatawan  domestik dan manca menggunakannya sebagai rujukan. 

Pelaku industri pariwisata kudu memanfaaatkan smart tourism ini dengan harapan untuk menarik wisatawan berkunjung. Smart Tourism ini tidak akan berjalan tanpa adanya sinergi antara pemerintah dan pelaku wisata daerah dan masyarakat. 

Saat ini tantangan bagi pegiat pariwisata adalah melibatkan anak-anak muda dalam pembangunan pariwisata. Mereka harus merasa ikutserta untuk memiliki  perasaan bangga dan perasaan memiliki terhadap kekayaan alam di sekitarnya.

Menjual Pesona Talaga Bodas

Potensi dari telaga bodas cukup signifikan untuk aset daerah. Setidaknya, wisata ini perlu dirawat agar bisa dinikmati  kaum milenial, ibu rumah tangga untuk menikmati akhir pekan dengan cara camping.

Nah, untuk menjual wisata talaga bodas ini dengan ngecamp tidak lain karena budaya camping di kalangan anak-anak muda merupakan hal yang paling menarik dilakukan. 

Menurut laporan dari North American Camping Report 2019, yang disponsori Kampgrounds of America, ternyata banyak generasi milenial dan Gen X yang mengindentikasi diri mereka sebagai penggemar kemah. Penelitian melalui Survei ini digelar di Amerika Serikat dan Kanada.

Jadi, apa yang membuat generasi milenial suka berkemah, setidaknya 30 persen generasi milenial mengatakan jika peristiwa besar dalam hidup mereka yaitu memiliki anak menyebabkan mereka senang untuk berkemah. Tujuan mereka berkemah karena mencintai alam bebas.

Hasil penelitian menyatakan jika para milenial menghabiskan dua jam di alam dapat membangkitkan kesehatan mental dan terhubung dengan alam serta mencabut kabel internet dan perangkat elektronik.

Kegiatan hiking yang sering disertai camping memberikan latihan yang baik. Talaga Bodas memiliki panorama alam yang menawan dan sensasi menuju ke lokasi juga memiliki medan sangat menantang untuk dinikmati.

Jika mencintai fotografi bisa mengabadikannya aneka spot yang menarik untuk di pamerkan di Gawai. Tentu hal, yang paling menarik adalah sensasi berendam di pemandian panas yang membuat kita sejenak bisa menghilangkan rasa penat. 

Perjalanan menuju lokasi kolam rendam ini hanya memerlukan perjalanan 200 meter ke arah kanan. Tapi, di musim hujan kalian harus berhati-hati karna jalannyan sangat licin. Sehabis mandi, kalian jiga bisa mengunjungi sebuah curuk di dekat.

Tinggal jalan kaki. Kamu akan tiba di sana. Fasilitas yang ditawarkan  di pemandian itu yaitu fasilitas kamar ganti, kamar mandi dan mushallo. Di arena parkir juga terdapat beberaapa penjual makanan dan minum.

Perlu diketahui juga. Air kawah di telaga Bodas mengandung gas solfatara menjadikan telaga ini lebih asam dan korosif. Terlebih, kondisi dari tempat ini, view Gunung Galunggung juga semakin menambah potensi untuk memikat para pengunjung. 

Talaga Bodas memiliki ketinggian 1.500m lebih di atas permukaan laut dan dikelilingi pemandangan yang luar biasa.

Usulan Buat  Setempat

Saya perlu memberikan  saran-saran agar ke depan wisata ini bisa dikembangkan sebaik mungkin. 

Melihat potensi di Talaga Bodas maka pemerintah harus bersungguh-sungguh  di dalam upaya untuk mengembangkan pariwisata ini agar terus dikenal dan dikunjungi masyarakat.

Setidaknya, inilah cara agar Pemkab setempat ikut mengawal pewajahan pariwisata yang kian bersolek dan menarik buat disinggahi.

Inilah yang kudu dipikirkan bersama-sama.


Referensi

https://alampriangan.com/wisata-kawah-talaga-bodas-garut/
https://rijalmaulana.com/sejarah-harga-tiket-masuk-camping-di-kawah-talaga-bodas-garut/
https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/travel/read/2019/06/07/114500927/libur-lebaran-sejumlah-destinasi-wisata-di-garut-diserbu-pengunjung
https://www.google.com/amp/s/m.trubus.id/amp/29987/cinta-alam-jumlah-millenial-yang-hobi-camping-makin-meningkat
https://blog.gamatechno.com/pariwisata-indonesia/



Biodata Penulis

* Fendi Chovi, anggota komunitas blogger Plat-M, Madura dan Forum Lingkar Pena (FLP) Sumenep.
Aktif menjadi pewarta warga serta menulis esai, resensi dan puisi.
Karya tulisnya dibukukan dalam antologi buku : Ini Baru  CIPO (Harian Surya, 2017) Kitab Santri (2018).
Mengisi artikel di beberapa media cetak dan portal online serta blog personal ajernoles.id 
Bisa dihubungi melalui akun twitter @fendi.chovi




Sebuah Kado Buat Ortu

Sebuah Kado Buat Ortu

Suatu waktu, saya memikirkan, apa yang perlu saya sampaikan jika diminta mengisi  materi di depan anak-anak agar menyukai dunia tulis menulis?

Setelah berdiskusi dengan seorang teman, saya dianjurkan untuk menyampaikan hal menarik manfaat menulis sebagai hadiah atau sebuah kado buat ortu.

Menulis itu bisa menjadi hadiah buat ortu. Penjelasannya seperti ini.

Jika kita dilahirkan di desa atau di kota, kira-kita apa yang bisa kita lakukan dan bayangkan tentang masa depan kita?

Sudahkah kalian berpikir tentang kondisi kita di masa lalu, hari ini, dan masa yang akan datang?

Bagaimana kita bisa memperbaiki nasib hari ini dan perjalanan hidup kita di masa yang akan datang?

Sebagai anak muda yang lahir di desa. Saya hanya berpikir manfaatnya menulis sebagai anak orang desa.

Saya selalu membayangkan hal-hal terbaik untuk ortu. Salah satunya dengan jalan menulis.

Dengan menulis itu, saya bisa berjuang untuk mempublikasikan artikel-artikel saya dan memenangkan kompetisi menulis yang menganjar hadiah untuk membayar uang kuliah dan membeli buku-buku terbaik buat menambah wawasan dan kosa kata untuk mempertajam ide dan diksi tulisan.

Sebagai orang desa, saya merasakan sebuah kekuatan dan amunisi dalam bentuk spirit intelektual sebagai penulis. 

Dengan menulis, saya masih memiliki harapan untuk memenangkan lomba menulis dengan hadiah utama uang dan tiket bepergian ke berbagai tempat dan pada akhirnya, karya-karya saya diapresiasi oleh banyak orang, termasuk guru dan dosen di kampus.

Apa yang bisa saya  dapatkan dari kegiatan menulis?

Jawabannya lebih dari itu. Tetapi, pada akhirnya, saya merasa benar-benar bisa memberi sebuah kado buat ortu dengan karya-karya saya. Saya bisa menulis buku untuk mengenang perjuangan ortu membesarkan saya dan mendoakan saya agar menjadi anak yang sholeh.

Lalu, jika ditanya, kado apa yang saya berikan untuk ortu?

Saya bisa kuliah dan membiayai kebutuhan saya dengan menulis tanpa memberikan terlalu banyak beban mengeluarkan finansial untuk biaya studi.

Adakah pengalaman seru yang kalian yang didapatkan dari kegiatan menulis? 

Mari lanjutkan cerita ini di kolom komentar !

Fendi Chovi, 2019


Hal Menarik yang Harus Dibaca Para Blogger Mengenai Surat yang Ditulis Rilke

Dalam buku "Surat  untuk Penyair Muda" yang ditulis Rainer Maria Rilke, sejatinya adalah permenungan untuk siapapun yang berniat menjadi penulis. 

Surat itu ditujukan untuk Franz Kappus, seorang yang memiliki obsesi menjadi penyair.


Rilke, penulis kenamaan dari Jerman itu, menulis dalam suratnya itu untuk Franz Kappus. 

“Carilah alasaan kenapa Anda ingin menulis ; rasakan apakqh alasan itu telah menanamlan akarnya jauh ke dalam diri Anda, hati Anda, hingga Anda lebih baik mati daripada diharuskan berhenti menulis.”

Membaca tulisan itu, pernahkah kita berpikir betapa menulis pun tetap memerlukan keseriusan. 

Rainer menyatakan  dengan memberikan pernyataan : 

“Di atas semua itu, Anda perlu memberanikan diri untuk bertanya kepada diri sendiri : haruskah Anda menulis."

“Carilah jawabannya di dalam diri Anda. Jika jawaban dari pertanyaan itu sifatnya positif ; atau bila Anda menjawab pertanyaan itu dengan lugas dan sederhana : “Saya harus menulis,” 

maka saya sarankan bagi Anda untuk mulai membangun hidup Anda sesuai dengan jawaban tersebut. Setiap momen dalam hidup Anda harus didedikasikan untuk menulis. Ini adalah kesaksian Anda.” 

Nah, surat berjudul Letters to A Young Poet itu setidaknya memberikan pertanyaan besar bagi siapapun, terutama para blogger (untuk mendedikasikan hari-hari mereka) agar semakin rajin menulis di blog.

2019, Fendi Chovi

Belajar Ngeblog dengan BloggerFLP

* Ditulis fendi chovi

Siang itu, seorang teman menegurku dan isi tegurannya begini :

"Kenapa kamu masih suka menunda membuat blog dengan domain berbayar?"

"Segera diurus, ya, agar semakin giat menulis," tegurnya.

Kegiatan Workshop Blog

Bahasa yang kerapkali aku dengarkan, blog milikku harus ber- top level domain (TLD). 

Permintaan itu, menurutnya, sangatlah penting buat langkah-langkahku ke depan. Apalagi, kami sering ikut event bareng-bareng yang sebagian dari kegiatan yang kami ikuti selalu aku tulis di blog.

Setelah menimbang teguran dan sarannya itu, aku langsung mengurus pembuatan domain dan plus mencari nama yang aku anggap mewakili semangatku ngeblog. 

Akhirnya, aku memilih nama blog baru di tahun 2019 ini, dengan nama ajernoles.id 

Ajer Noles merupakan dua kata dari bahasa Madura. Ajer memiliki arti belajar. Noles memiliki arti menulis. Jadi, saat digabung artinya belajar menulis.

Blog ini akan dimanfaatkan untuk membicarakan dan mendiskusikan berbagai hal dan projek yang berkaitan dengan #BacaTulis #Ngobrolin BukuBaruBukuLawas #KomunitasMenulis #JalanJalanMenulis
Membiasakan ngeblog sama dengan membiasakan diri untuk rajin menulis. "Menulis itu, kata Pramoedya Ananta Toer, adalah kerja keabadian." 

Artinya, penulis itu akan terus mengikat pesan dan nasihat yang bisa terus menerus dibaca melewati puluhan generasi. 

Penulisnya boleh saja sudah tiada. Tetapi, karya-karya yang ditulisnya. Tak akan pernah hilang dalam ingatan kaum terpelajar. Bahkan, sejarah.
Baca juga tulisan Murid Tjokroaminoto ini 

Mengingat saat ini adalah era-nya digital. Maka, kita pun harus cepat untuk beradabtasi dalam menyajikan tulisan yang mudah diakses anak-anak milenial. 

Mengutip Karl Manheim, sosiolog yang mencetuskan penamaan generasi pada 1923 yang silam, jika kita dilahirkan pada periode 1980 hingga 1997. Kita adalah generasi Y, alias generasi milenial yang pertama.

Sebagai generasi milenial, ngeblog seharusnya dijadikan makanan sehari-hari. Agar sehat dan menyehatkan. Utamanya dalam memperkaya wawasan. Terlebih, finansial.

Saat ini, anak-anak milenial mulai terbiasa membaca dan mendapatkan asupan bacaan melalui gawai (gadget). Masyarakat yang melek IT, di desa atau kota, selama terkoneksi dengan internet. Mereka adalah konsumen. Dan kita menjadi produsen bacaan bagi orang-orang pengguna internet jika rutin mengisi blog kita.

Permintaan teman saat itu, pada titik ini menjadi permintaan yang layak dikenang. Blog kita memang tidak harus yang domainnya berbayar. Namun, memiliki blog dengan domain berbayar sangat terlihat profesional dan besar manfaatnya. 
Nah, sejak kembali bergabung dengan FLP, melalui Forum Lingkar Pena (FLP) di cabang Sumenep. Aku juga menjadi bagian Blogger FLP.

BloggerFLP adalah wadah yang ada di FLP yang menampung para anggota, terutama yang memiliki minat pada aktifitas ngeblog. Untuk bergabung dengan BloggerFLP, kalian kudu menjadi anggota FLP, memiliki NRA FLP, dan syarat lainnya, blog kalian kudu yang TLD.

Bergabung menjadi bagian BloggerFLP ini memberikan kesempatan untuk terkoneksi dengan sesama Blogger yang ada di FLP. Sebagaimana kita ketahui, FLP adalah komunitas literasi yang memiliki anggota yang tersebar di berbagai daerah. Manfaatnya tentu sangat besar juga buat kalian. 

Dari FLP, kalian bisa berjejaring bersama orang-orang yang sehobi dan bisa saja (kalian menemukan jodoh di FLP). Bukan hal yang mustahil juga, bila suatu hari nanti, tulisan-tulisan kalian di blog kalian sendiri bisa kalian bukukan.

Ngeblog, kalau kita jalani, manfaatnya sangat baik. Tidak hanya bagi kesehatan tubuh, pikiran tapi jika ditekuni juga untuk penguatan finansial (meski, untuk poin ini tergantung amal baiknya :)

Ngeblog bersama anggota/pengurus BloggerFLP ini merupakan kado yang layak disyukuri. Setidaknya, aneka manfaat pasti kita dapatkan sepanjang kita serius dan mau belajar bersama-sama.

Di FLP, tentu saja, kalian akan berjumpa dengan para penulis keren lainnya. Tak hanya keren sih, Insya Allah, mereka juga sholeh dan sholehah. Mereka akan senantiasa menulis sesuatu yang beradab dan menjaga setiap kata-kata yang keluar dari jemari atau keyboard dengan tujuan mengundang amal baik.

Kalau bukan hari ini kalian ngeblog, kapan lagi?

* hobi ngeblog dan jalan-jalan. Bergiat di FLP cabang Sumenep.

Kisah Si Jomblo Militan Menikahi Seorang Gadis

Pada suatu malam yang tengah kosong kegiatan. Temanku dari Ciamis yang belum lama tiba di kos sebagai anak baru mengajakku berkunjung ke lokasi-lokasi wisata. Ingin menikmati suasana baru, katanya. Aku mengajaknya ke Bukit Bintang. Selain penasaran dengan berbagai ulasan menarik terkait tempat tersebut, aku ingin sekali menyaksikan suasana di atas bukit yang katanya menjanjikan romantisme.

Malam itu kami berangkat menaiki sepeda motor. Menyusuri jalan di Wonosori, sesekali memasang mata ke kiri dan kanan jalan. Siapa tahu ada bidadari nyasar di Jogjakarta ini.

Sesampai di lokasi, ternyata suasana wisata sudah ramai oleh anak-anak muda. Mereka terlihat asyik ber-selfie. Perjalanan dengan mengendarai sepeda motor dari kos ke Bukit Bintang cukup menguras energi. Kami pun langsung memutuskan untuk makan malam.


Bukit Bintang. Wisata yang satu ini sudah dikenal luas di Jogjakarta. Kita bisa menyaksikan kota Jogja dan gemerlap cahaya, serasa berdiri di atas bintang-bintang jika melihat ke bawah dari ketinggian. Hamparan cahaya lampu tampak indah dan cantik di malam hari dari atas bukit ini.

Ngobrol dan menikmati suasana di Bukit Bintang. Di sini para pengunjung tidak hanya disuguhi pemandangan yang mengesankan. Berbagai warung makan berjejer, para pengunjung bisa mememesan makanan dan minuman dengan harga bervariasi. Kopi, jagung bakar, atau mi rebus. Bersama teman, pacar, atau keluarga menatap gemerlapnya lampu-lampu di kejauhan. Indah lah pokoknya!

“Duduk di sini mengingatkanku pada masa-masa muda, Mas,” kata temanku.

“Aku kira ada benarnya, Mas. Duduk di sini apalagi jika mengajak pasangan, barangkali akan membuat kita menjadi manusia paling romantis. Kita bisa menunjukkan kepada kekasih. Hamparan lampu-lampu dibawah sana. Seolah-olah kita menyaksikan bintang-bintang di langit,” kataku menimpali.

Mular, begitu nama temanku ini. Ia sudah memiliki istri dan dua anak, sedangkan aku sendiri masih berstatus lajang. Tak masalah, justru itu kesempatan besar bagiku untuk menikmati kebebasan.

Menikmati hidangan bakso dan ice juice. Kami bercerita panjang lebar tentang apa saja yang menarik bagi kami. Tak sungkan aku bertanya seputar awal perkenalan dan perjumpaannya bersama istri.

Ia menatap ke hamparan cahaya di kejauhan dari arah ketinggian bukit bintang ini. Menghela napas. Kemudian bercerita tentang kenangannya saat awal-awal PDKT dengan si istri.

“Saat aku masih jomblo, Mas. Aku pernah bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Gajiku lumayan sih saat itu,” ujarnya.

Pertemuan itu bermula saat Mular berkunjung ke sebuah restoran. Di sana ia bertemu dengan perempuan yang menurutnya sangat menarik perhatiannya. Mular menyebutkan jika gadis itu tidak seperti beberapa perempuan yang selama ini dikenalnya.

Sejak kejadian itu, Mular jadi sering bertandang ke restoran tempat gadis itu bekerja, dengan harapan si gadis tersebut membawakan hidangan menu makanan yang dipesannya. Tak disangka, gadis itu benar-benar mengantarkan hidangan yang dipesan. Sayangnya, ia tidak merespons sama sekali apa yang ditanyakan oleh Mular. Mungkin karena pertanyaan Mular hanya seputar, boleh kenalan, boleh minta nomor HP, dan pertanyaan basa-basi lainnya.

Si gadis tidak merespons dan berlalu begitu saja ketika selesai mengantar pesanan.

“Sebagai jomblo militan, aku merasa ditantang dengan keadaan seperti itu. Aku penasaran, Mas. Jadi setiap malam, aku bertandang ke tempat gadis itu bekerja. Membeli segala jenis makanan yang ada di restoran itu. Bahkan, tak jarang aku menghabiskan Rp100.000 lebih untuk sekali makan.”

“Gajiku saat itu cukup banyak sih. Apalagi, aku kan masih jomblo. Jadi cukuplah sekadar makan di restoran itu,” tukas Mular.

“Sebagai jomblo militan, aku tidak kalah siasat. Saat gadis pelayan restoran itu semakin sulit diajak berdiskusi, aku diam-diam memiliki ide baru.”

“Aku meminta nomor gadis itu kepada pelayan lainnya. Mbak, boleh dong saya dikasih nomor HP teman sampeyan yang itu,” kata Mular sambil terkekeh.

“Aku berkata seperti itu sambil memberikan uang seadanya sebagai ongkos kepada si teman gadis itu, lho?”

“Tak disangka, ternyata nomor gadis itu kudapatkan. Ya, saat itulah, kami berkenalan dan niatku saat itu bukan lagi berpacaran. Tapi langsung menikah.”

“Kutembak gadis itu dengan pertanyaan begini, maukah engkau jadi istriku?” kata Mular agak malu-malu.

Si gadis agak malu-malu dan kemudian menjawab, “Iya, boleh Mas. Silakan minta kepada orang tuaku.”

Sebagai jomblo militan dan pernah kesepian, Mular pun langsung menyiapkan diri menemui bapak gadis itu. “Tahukah berapa hari untuk mendekati gadis itu, Mas?” tanya Mular kepadaku.
Aku menggelengkan kepala.
“Serius hampir sebulan lho, Mas. Tak ada tanda-tanda kalau gadis itu tertarik padaku. Atau jangan-jangan ia sedang menguji cinta dan keseriusanku,” ungkap Mular serius.
“Beruntungnya sih, aku tercatat sebagai jomblo militan dan akhirnya Tuhan mengabulkan doaku. Kami pun menikah,” ungkap Mular.
“Terus, bagaimana dengan Mas sendiri?”

Gerimis tiba-tiba turun. Aku terdiam. Aku tak mampu berkata-kata. Tak ada cerita, pun tak ada sesuatu yang layak diceritakan. 

Kalau saja Bang Mular tahu. Selain jadi kawan, kesepian itu lebih sering jadi lawanku. Setidaknya untuk sekarang, aku tak mampus dikoyak-koyak sepi.

Ditulis Fendi Chovi
Dimuat di Jombloo.co pada (02/12/2016) dan saat ini situs tersebut lagi ditutup. 

Jogja yang Pernah Aku Singgahi

Ditulis Fendi chovi

Suasana di halaman Taman Budaya Yogyakarta terlihat ramai malam itu. Penampilan sejumlah musisi di panggung utama benar-benar memberi hiburan, terutama buatku sendiri yang baru tiba di Jogja.

Malam itu, aku menyaksikan pameran seni lukis dalam perhelatan PAPERU (Pameran Perupa Muda) Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2016 dengan tagline :  Masa Depan, Hari ini Dulu !

Tagline itu membuatku berefleksi tentang hari-hari yang kujalani hanya demi menyusun masa depan. 

"Sudahkah aku menikmati "hari ini", waktu yang kujalani saat ini?" tanyaku kepada diri sendiri.

Sejenak suasana seperti hening dalam batinku.

Sejumlah lukisan para perupa dipajang di sudut-sudut ruangan. 

Aku menatap beberapa lukisan. Lalu, aku meminta difoto untuk menegaskan bahwa aku pernah hadir ke pameran FKY tahun 2016 ini. 

Ya, hadir sebagai pengunjung untuk menyaksikan aneka jenis lukisan para seniman.

Kemudian, temanku bertanya, “Apa sih yang sebenarnya kamu harapkan dari perjalananmu ke Jogja?”

"Aku hendak belajar mengenal Jogja. Barangkali dari kota ini, banyak hal menarik yang bisa aku teladani," jawabku.

Setelah itu, aku kembali melihat-lihat aneka lukisan dan mampir ke stand aksesoris dan di dinding terpajang pernyataan menarik di dalam benda mirip Pin ukuran agak besar terpdengan tulisan : I am more than What You See.



Kata-kata itu membuatku berpikir dan merenung sejenak.

Hemmm .... 
Bayangkanlah 

Seandainya seseorang memandangmu dengan sikap meremehkan dan merendahkan. Itu barangkali karna mereka belum tahu siapa dirimu.

Begitu juga seandainya orang-orang masih sibuk bertanya tentang masa depan ...

"Bagaimana meraih masa depan itu?" 

Dengan tersenyum akan kujawab dengan tagline FKY :  Masa depan, hari ini dulu !" ...

2016, Titik Nol Malioboro







Back To Top