Meraih Mimpi dengan Menulis

Jangan Sampai Penulis Mati karena Pembacanya Sendiri

Setiap kali membaca buku. Hal yang saya ingin sekali mengingatnya adalah tentang apa yang disampaikan dan apa yang ditulis dalam buku itu, kemudian tentang siapa yang berada di balik buku itu terbit.

Membaca buku bagi saya bukan semata-mata berwisata aksara. Juga bukan semata-mata membaca kumpulan kata-kata yang kemudian membentuk ide dalam barisan kalimat dan paragraf.

Membaca buku buat saya adalah jalan untuk mengerti. Membaca buku buat saya adalah jalan untuk menghargai penulis serta penerbit.



Dengan membaca buku, saya juga sedang belajar memahami hidup para penulisnya. Perjuangan mereka menulis buku dan kepada siapa buku itu ditulis.

Bagi saya menulis buku adalah perjuangan dan mereka berhak untuk mendapatkan kepuasaan secara batin dan finansial.

Kaya menulis bukan hal yang salah. Tapi, kaya dengan menulis rasanya hanya mimpi jika beberapa penerbit merasa dirugikan dengan adanya pembajakan.

Tulisan ini merupakan pemikiran dan refleksi sederhana untuk lomba blog yang digelar penerbit Mizan. 

Para penulis juga merasa dirugikan. Maka, apa solusinya?

Hargailah kerja keras penerbit sebagai sebuah perusahaan yang bertujuan untuk mencerdaskan dan menjembatani penulis bertemu dengan para pembacanya. Dan memberikan royalti untuk penulis atas buku-buku mereka yang terjual.

Saya juga seringkali bertanya, buku apa yang pernah saya baca?

Kira-kira buku apa yang saya baca. Apakah buku itu didapatkan dari hasil bajakan?

Sebagai pembaca saya selalu berusaha mendapatkan langsung dari penerbit atau penulisnya, dan syukur-syukur mendapatkan tanda tangan dari sang penulis.

Ada rasa bahagia. Membeli buku dan mendapatkan tanda tangan. Untuk mendapatkan rasa bangga sebagai pembaca dan menghargai para penulis.

Menurut saya, membaca buku itu asyik. Tapi, kita juga harus mengerti hak-hak penerbit dan penulis. Kita juga kudu paham tentang tanggung jawab sebagai pembaca. 

Jangan sekali-kali, kita membeli hasil bajakan. Jangan membiasakan membeli buku-  buku di luar dari penerbit, yang dipercayai dan terikat MoU dengan sang penulis.

Awalnya, saya juga seringkali mendapatkan buku bajakan yang dijual di pasaran. Yang dijual murah. Untuk buku-buku yang masih dijual mahal dan masih diterbitkan oleh penerbit buku itu. Tapi, saya juga merasa perlu untuk menumbuhkan kesadaran baru pentingnya menjadi pembaca yang harus mampu menghargai penulis.

Saat ini, membaca itu bukan sekadar berwisata ide. Tapi, juga berwisata ke dalam hati para penulis yang merasa dirugikan.

Cara Mengatasi Pembajakan

Menurut saya, cara mengatasi pembacakan harus dimulai dari pembaca. Mereka adalah konsumen dari buku.

Jatuh bangunnya dan bangkrut tidaknya para penulis ada di tangan mereka.

Jika mereka sadar, maka mereka akan meninggalkan kebiasaan sebagai pembaca buku bacaan.

Kalau kesadaran ini masih belum muncul dalam diri sang pembaca. Maka, selama-lamanya, sekeras apapun tuntutan para penerbit kepada pelaku pembajak buku, para konsumennya yang memiliki peran pengepul pemjakan buku itu sendiri.

Saya membaca sepotong berita di portal beritagar.id yang ditulis Sivana Khamdi Sukria pada 23 April 2019 berikut ini :

Para pembaca buku harus disadarkan bahwa dengan membaca -apalagi membeli- buku bajakan, pada dasarnya mereka tengah membunuh masa depan dunia perbukuan itu sendiri.

Nah, pesan itu penting. Kita harus mengedukasi para pembaca. 

Para pembaca kudu dibekali bagaimana menjaga "perjuangan" dan juga "hidup" penulis dan dunia penerbitan. Caranya, belilah buku mereka. Jangan dari buku-buku bajakan.

Jangan sampai penulis mati karena pembacanya sendiri.

Itu hal yang perlu kita refleksikan bersama-sama.

Fendi Chovi, 2019


Labels: Essai

Thanks for reading Jangan Sampai Penulis Mati karena Pembacanya Sendiri. Please share...!

0 Komentar untuk "Jangan Sampai Penulis Mati karena Pembacanya Sendiri"

Back To Top