Meraih Mimpi dengan Menulis

Sebuah Kado Buat Ortu

Suatu waktu, saya memikirkan, apa yang perlu saya sampaikan jika diminta mengisi  materi di depan anak-anak agar menyukai dunia tulis menulis?

Setelah berdiskusi dengan seorang teman, saya dianjurkan untuk menyampaikan hal menarik manfaat menulis sebagai hadiah atau sebuah kado buat ortu.

Menulis itu bisa menjadi hadiah buat ortu. Penjelasannya seperti ini.

Jika kita dilahirkan di desa atau di kota, kira-kita apa yang bisa kita lakukan dan bayangkan tentang masa depan kita?

Sudahkah kalian berpikir tentang kondisi kita di masa lalu, hari ini, dan masa yang akan datang?

Bagaimana kita bisa memperbaiki nasib hari ini dan perjalanan hidup kita di masa yang akan datang?

Sebagai anak muda yang lahir di desa. Saya hanya berpikir manfaatnya menulis sebagai anak orang desa.

Saya selalu membayangkan hal-hal terbaik untuk ortu. Salah satunya dengan jalan menulis.

Dengan menulis itu, saya bisa berjuang untuk mempublikasikan artikel-artikel saya dan memenangkan kompetisi menulis yang menganjar hadiah untuk membayar uang kuliah dan membeli buku-buku terbaik buat menambah wawasan dan kosa kata untuk mempertajam ide dan diksi tulisan.

Sebagai orang desa, saya merasakan sebuah kekuatan dan amunisi dalam bentuk spirit intelektual sebagai penulis. 

Dengan menulis, saya masih memiliki harapan untuk memenangkan lomba menulis dengan hadiah utama uang dan tiket bepergian ke berbagai tempat dan pada akhirnya, karya-karya saya diapresiasi oleh banyak orang, termasuk guru dan dosen di kampus.

Apa yang bisa saya  dapatkan dari kegiatan menulis?

Jawabannya lebih dari itu. Tetapi, pada akhirnya, saya merasa benar-benar bisa memberi sebuah kado buat ortu dengan karya-karya saya. Saya bisa menulis buku untuk mengenang perjuangan ortu membesarkan saya dan mendoakan saya agar menjadi anak yang sholeh.

Lalu, jika ditanya, kado apa yang saya berikan untuk ortu?

Saya bisa kuliah dan membiayai kebutuhan saya dengan menulis tanpa memberikan terlalu banyak beban mengeluarkan finansial untuk biaya studi.

Adakah pengalaman seru yang kalian yang didapatkan dari kegiatan menulis? 

Mari lanjutkan cerita ini di kolom komentar !

Fendi Chovi, 2019


Labels: Essai

Thanks for reading Sebuah Kado Buat Ortu. Please share...!

12 komentar on Sebuah Kado Buat Ortu

  1. semangat mba,hal yang besar bermula dari yang kecil. mba pasti bisa memperkenalkan desanya lewat literasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak atas blog walkingnya dan atas nasihatnya, btw saya laki2 dan kudu dipanggil Mas.

      Hapus
  2. Keren sekali mbak, saya juga seorang pemuda yg berasal dari desa dan berkeinginan seperti yg mbak cita-citakan

    BalasHapus
  3. Motivasi menulisnya bagus sekali. Orangtua pasti akan bangga kepadamu.

    BalasHapus
  4. Ya, Ortu bisa menjadi motivasi utama. Karena ridha Allah ada pada ridha Orang tua. Btw, ini Mas kan, bukan Mbak? Salam kenal.

    BalasHapus
  5. ortuku sih serah, mau jadi apa. tapi kakak cowok tertua dulu pernah nanya, dapet apa dari nulis? aku juga bingung mau jawab apa. bilang dpt duit, gedean pemberian dia. tapi sdh tua gini baru dia nyadar, di antara adek2nya akulah yg belum pernah mengeluh. ya iyalah, kuhabiskan di ketikan semua, huhu. gak tau dia!

    BalasHapus
  6. Menulis bisa jadi sarana untuk menyalurkan keresahan jiwa. Daripada disalurkan untuk kegiatan yg enggak-enggak kan ya?

    BalasHapus
  7. barakallah mas, hebat jika bisa demikian tanpa harus menambah beban orang tua terutama untuk kuliah

    BalasHapus
  8. Dengan menulis, Alhamdulillah jadi bisa jalan-jalan gratis ke luar kota dan ke luar negeri. Dengan menulis Alhamdulillah pundi-pundi di rekening jadi bertambah. Banyak lagi manfaatnya yang lain.

    BalasHapus
  9. Saya juga banyak dapat pengalaman menarik karena menulis. Karena konsisten menulis, waktu S1 dulu bisa dapat uang saku dari menulis cerpen di koran lokal. Alhamdulillah.

    BalasHapus
  10. Menulis memang membuat hidup lebih hidup. Semoga karya-karya Mas Fendhi penuh berkah!

    BalasHapus
  11. Iya, ortu gak butuh harta kita. Mereka hanya butuh kepuasan dan kebanggan akan kebaikan dan kebermanfaatan anaknyandalam hidup. Sayangnya saat karya pertama saya dimuat di media, ayah bunda saya sdh wafat. 😭😭

    BalasHapus

Back To Top